-->
  • Jelajahi

    Copyright © KabarJogja.ID - Kabar Jogja Hari Ini
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Dusun Mangiran dan Kembanggede, Gelar Seni Tradisional dan Lomba

    03/04/25, 20:28 WIB Last Updated 2025-04-03T13:28:20Z

    Bantul, Kabar Jogja – Di hari keempat Idul Fitri 1446 H, warga dan pemudik di dua desa di Bantul mendapatkan hiburan dua acara berbeda. Tradisi doa bersama dan berbagai perlombaan, diselenggarakan dua desa untuk menyambut pemudik.


    Rabu (3/4) menjadi puncak acara empat hari gelaran tradisi ‘Bakda Mangiran’ yang berlangsung setiap tahun sejak 1930-an. Selain pertunjukkan kesenian sejak malam pertama lebaran, puncak acara hari ini ditutup dengan doa bersama serta pembagian hasil bumi.


    Berlangsung sejak 31 Maret lalu, ajang ini berkembang pesat dan menjadi roda pemutar perekonomian warga Mangiran setiap tahunnya. Dua tahun terakhir, tercatat perputaran uang selama empat malam menembus Rp1 miliar.


     “Tradisi ini sudah dimulai sejak 1930-an dan sudah ditetapkan menjadi Warisan Tak Benda oleh Kementerian Kebudayaan sejak 2024,” kata Pendamping Desa Kebudayaan Trimurti,


    Dalam sejarahnya, Bakda Mangiran awalnya berupa pertunjukan seni tradisional selama empat malam berturut-turut. Awalnya hanya kesenian ledek, namun sejak 1970-an diganti dengan pertunjukkan Reog Mangiran. Kesenian wayang orang yang disertai tari yang mengangkat kisah Ramayana dan Mahabarata.


    Purwantono menyatakan, tak hanya sebagai upaya menjaga tradisi dan silaturahmi bagi warga. Acara tahunan ini juga memutar roda perekonomian, pasalnya berbagai wahana hiburan dan pasar malam hadir hingga beberapa malam sesudah acara puncak selesai.


    Sebagai pengamat kebudayaan, Purwantono menyebut saat ini tradisi ini agak mulai kurang diperhatikan generasi muda. Selain karena perkembangan zaman, belum masifnya regenerasi kepada mereka menjadi kendala yang harus diatasi bersama.


    “Semangat gotong royong kiranya harus menjadi prioritas utama untuk mempertahankan tradisi ini. Bagaimanapun ini adalah tradisi yang baik untuk menjalin silaturahmi,” katanya.


    Sementara, warga Dusun Kembanggede, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan sejak Rabu siang menikmati berbagai perlombaan yang pesertanya anak-anak, remaja dan ditutup dengan lomba panjat pinang bagi bapak-bapak.


    “Kembanggede FunFest ini agenda rutin tahunan yang selalu digelar di hari keempat lebaran sejak 1970-an. Dulu kegiatan ini menjadi pengganti dari berbagai ajang Agustusan,” sebut Dukuh Kembanggede, Widiyanto.


    “Dulu banyak sekali lombanya, mulai lari keliling kampung, tarik tambang, maupun sepakbola sarung. Namun lima tahun terakhir suasananya kurang meriah karena fokus kegiatan terbagi di Agustusan,” kata Dukuh Kembanggede, Widiyanto.


    Hal ini bertujuan untuk memberi kesempatan pemudik untuk mengenal masa lalu kehidupan di Kembanggede dan mengenalkan kehidupan tempat kelahirannya kepada anak-anak.


    “Jadi dulu, para pemudik sangat antusias mengikuti berbagai perlombaan. Ini juga menjadi ajang silaturahmi, karena di tiga hari sebelumnya warga sibuk mengunjungi kerabatnya,” katanya.


    Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena kondisi perekonomian tengah menurun sehingga tidak banyak pemudik yang pulang kampung. Tahun ini hanya bisa mengumpulkan dana Rp12 juta. Tahun-tahun sebelumnya bisa tembus Rp16 juta lebih.


    Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Imam Pratanadi saat dihubungi mengapresiasi berbagai gelaran kesenian tradisi maupun kegiatan di pedesaan. Menurutnya hal ini akan menjadi nilai tambah bagi pariwisata karena akan menjadi hiburan alternatif bagi wisatawan.


    “Besok juga akan digelar Festival Klangenan Bantul 2025, di Embung Imogiri 1, Dusun Karang Kulon, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri. Berbagai kegiatan ini terus kita promosikan ke wisatawan,” tutupnya. (Set)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Sport

    +

    Milenial

    +
    close